TIE BREAKER FIFA, HARAM HUKUMNYA BUAT PENGULUR WAKTU
![]() |
| Kecewa Miguel Almiron. |
Menjengkelkan menyaksikan pertandingan final sepakbola saat posisi skore 2 - 1 . Kesebelasan yang unggul mengulur ngulur waktu untuk memenangkan pertandingan. Suporter yang mana kesebelasannya ketinggalan angka terpancing marah dengan kelakuan yang buruk itu.
Dengan peraturan baru ' Tie Breaker ' yang ditetapkan FIFA maka tamatlah taktik mengulur waktu yang biasanya dipakai kesebelasan yang sudah unggul skore.
Penjaga gawang akan kena semprit jika lebih 5 detik main main bola di depan gawangnya. Pemain yang melempar bola ke dalam juga kena kartu kuning jika lebih 5 detik tidak melempar bola.
Dengan tekanan itu otomatis permainan bola di lapangan tak ada hentinya.
Bahkan pergantian pemain yang dulunya dijadikan ajang mengulur waktu. Sekarang nggak ada ampun. Pemain yang diganti harus keluar lapangan dalam waktu maksimal 10 detik. Jika lebih dari 10 detik maka pemain baru yang menggantikan diganjar 1 menit tidak boleh masuk lapangan.
Termasuk pemain yang cedera yang mendapatkan perawatan medis. Wajib meninggalkan lapangan permainan lapangan selama 1 menit.
Yang jelas dengan peraturan baru itu haram hukumnya pagi para pemain untuk walk out atau protes meninggalkan lapangan, langsung diganjar Kartu Merah.
Dengan peraturan baru itu banyak pengamat sepakbola yang acungi jempol, artinya sepanjang permainan akan nampak sportif. Apalagi dengan fungsi VAR diperluas, sedikit saja pemain berbuat curang dengan cepat dideteksi.
Memang tidak sedikit Media olahraga dan pengamat sepak bola yang mengkritisi aturan baru FIFA itu. Khususnya membengkaknya kesebelasan yang ikut ajang Piala Dunia dari 32 kesebelasan menjadi 48 kesebelasan.
Diantaranya dari La Gazzetta dello Sport yang menulis : Dengan perluasan turnamen menjadi 48 negara, beberapa pertandingan terlihat sangat timpang, lebih besar tidak selalu berarti lebih baik !
" Banyak goal yang terjadi pada awal laga Piala Dunia nampaknya selaras dengan masyarakat Amerika Serikat yang memang senang dengan banyak goal yang bersarang ke gawang, " Ungkap Bung Niagara pengamat kawakan sepakbola di stasiun TV baru baru ini.
" Sepertinya FIFA ini tunduk sama Amerika Serikat dengan aturan aturan barunya !" ujar Akmal Marhali pengamat sepak bola dalam instagramnya.
Tidak itu saja 13 Federasi Sepak bola Afrika, Karibia dan Asia Tengah mengecam Presiden UEFA Alexander Caferin perihal aturan baru FIFA itu.
PSSI memandang aturan baru itu FIFA itu justru mengurangi tindakan diskriminasi dan rasisme dalam sepak bola.
Hal ini senada dengan pengamat sepakbola kondang dari tanah air yakni Polce Pandie.
" Kebijakan FIFA yang baru itu juga membuka peluang bagi negara negara berkembang untuk merasakan atmosfir kompetisi elite dunia, " ujar Polce Pandie saat dialog di RRI dua minggu yang lalu.
Tentu bagi sebagian besar mafia sepakbola kebijakan FIFA ini juga mengurangi sepak terjang mereka. Utamanya peraturan baru ' head to head ' dari FIFA. Artinya tidak ada lagi pengaturan lolos ke babak berikutnya lewat selisih goal. Dua kesebelasan yang nilainya sama wajib berlaga untuk menentukan siapa yang lolos ke babak berikutnya.
Dampak aturan baru ini menimpa bintang bola Paraguay, Miguel Almiron yang menjadi korban perdana aturan baru FIFA di Piala Dunia. Ia diganjar kartu merah setelah ia menutup mulutnya saat berdiskusi panas dengan pemain kesebelasan Turki. Karena menutup mulut saat melakukan konfrontasi akan diganjar kartu merah juga merupakan aturan baru FIFA.
Memang tak dapat dipungkiri dengan aturan ' Tie Breaker ' Itu terlihat pertandingan sepak bola lebih menarik dan jauh dari menjemukan. Terlepas ada pesanan dari Amerika Serikat, yang pasti taktik mengulur waktu haram hukumnya di Piala Dunia kali ini. ( Ariaone)

Posting Komentar